
Mantis.news.com—MAN 3 Sukabumi pada 9–10 Agustus 2025 menyelenggarakan Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di Gedung Samudera PGRI Cibuaya. Kegiatan ini diikuti oleh 76 guru dan tenaga kependidikan (GTK) MAN 3 Sukabumi.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala MAN 3 Sukabumi, Pahirudin, S.Ag., M.M. Dalam sambutannya yang singkat namun sarat makna, beliau berpesan:
“Mari kita ikuti workshop ini dengan tertib, tuntas, dan penuh kesungguhan. Kegiatan ini bukan sekadar agenda pelatihan, tetapi upaya kita bersama membangun madrasah yang unggul, berkarakter, dan penuh kasih sayang demi masa depan peserta didik.”
Workshop ini menghadirkan tiga narasumber. Ucu Setiabudi, S.Pd.I., M.M., selaku Pengawas Bina Madrasah Aliyah Kabupaten Sukabumi, memaparkan delapan indikator cinta dalam KBC, yaitu perhatian dan pengertian, penerimaan, komitmen, tindakan kasih sayang, niatan jangka panjang, rasa hormat/takzim bersama, keinginan untuk hidup bersama selamanya, serta keterbukaan dan komunikasi. Dalam penyampaiannya yang menyentuh, ia menegaskan: “Cinta dalam pendidikan bukan hanya slogan. Ketika guru memberi perhatian, memahami, dan menerima siswanya dengan tulus, kita sedang membangun generasi yang percaya diri dan berakhlak. Kurikulum ini mengajak kita bukan sekadar mengajar, tapi juga merawat hati anak-anak.”

Narasumber kedua, Nurjatnika, S.Pd., M.Pd., Pengawas Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat KCD V, mengupas konsep deep learning yang mendorong peserta didik memahami materi secara mendalam, menghubungkannya dengan kehidupan nyata, dan membentuk keterampilan berpikir kritis.
Adapun narasumber ketiga, Wakamad Kurikulum MAN 3 Sukabumi, memberikan materi teknis mengenai pengadministrasian KBC, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pelaporan yang sesuai standar madrasah. Menutup kegiatan, panitia menegaskan bahwa workshop ini membawa manfaat besar bagi GTK MAN 3 Sukabumi. Peserta memperoleh wawasan, keterampilan, dan semangat baru untuk mengimplementasikan KBC secara optimal. Dengan begitu, diharapkan setiap guru dan tenaga kependidikan dapat menjadi agen perubahan yang tidak hanya mengajar dengan ilmu, tetapi juga mendidik dengan hati.

(Dok. Humas MAN 3)

Beri Komentar